Laman

Minggu, 30 Agustus 2015

psychological distress (distres psikologis)

PSYCHOLOGICAL DISTRESS (DISTRES PSIKOLOGIS)
Pengertian psychological distress
Psychological distress adalah keadaan subjektif yang tidak menyenangkan. Menurut Mirowsky dan Ross (2003) distress diakibatkan oleh dua bentuk utama yaitu depresi dan kecemasan. Depresi adalah perasaan sedih, kehilangan semangat, kesepian, putus asa, atau tidak berharga, berharap orang lain mati, kesulitan tidur, menangis, merasa segala sesuatu adalah sebuah usaha, dan tidak mampu untuk pergi. Kecemasan adalah ketegangan, gelisah, khawatir, marah, dan takut.
            Depresi dan kecemasan masing-masing dibagi kedalam dua bentuk yaitu mood (suasana hati) dan malaise (rasa tidak enak pada tubuh) (Mirowsky & Ross, 2003). Mood mengacu pada perasaan seperti kesedihan depresi atau khawatir akan kecemasan. Malaise mengacu pada keadaan tubuh, seperti kelesuan dan gangguan depresi (kegelisahan) dan penyakit otonom seperti sakit kepala, sakit perut, atau pusing dikarnakan kegelisahan. Depresi dan kecemasan, mood dan malaise keduanya terkait dengan dua cara yaitu peta zona sosial yang tinggi dan rendah yang sangat serupa dan orang yang menderita dari biasanya cenderung menderita lebih dari orang lain (meskipun belum tentu pada saat yang sama).
            Chalfant, Heller, Roberts, Briones, Hochbaum, & Farr (1990), mendefinisikan psychological distress sebagai pengalaman terus menerus ketidakbahagiaan, gugup, marah, dan hubungan interpersonal yang bermasalah. Menurut Kessler, et.al, (2002), Psychological distress  adalah suatu ketidakstabilan kondisi yang berdampak pada masalah ketidaknyamanan emosional, kognisi, perilaku, dan perasaan individu seperti kecemasan, suasana hati depresi, kepenatan atau kelelahan, dorongan untuk selalu bergerak tanpa istirahat, dan ketidakberhargaan diri individu.
            Menurut Quick, Quick, Nelson dan Hurrel (1997), distress (strain) individu adalah derajat penyimpangan fungsi kesehatan individu pada fisiologis, psikologis, dan perilaku. Distress individual dan strain biasanya dijumpai gangguan seperti penyakit kardiovaskular (fisiologis), depresi (psikologis), dan kekerasan (perilaku).    
             Menurut Shaheen dan Alam (2010), psychological distress mengarah pada beberapa situasi pemikiran dan perasaan negatif seseorang seperti ketidaknyamanan, frustasi, mudah marah, khawatir, dan cemas. Dalam bentuk sederhana psychological distress dipandang sebagai sebuah konstruk yang mempresentasikan aspek-aspek fungsi negatif (Karim, 2009).  

Ciri-ciri psychological distress
Psychological distress merupakan gangguan depresi dan kecemasan. Berdasarkan Diagnostic and statistical manual of mental disorders – 5th (DSM-V) ciri-ciri psychological distress adalah sebagai berikut:
1.        Gangguan depresif mayor
Gangguan depresif mayor mempresentasikan kondisi klasik pada kelompok gangguan ini. Karakteristik pada gangguan ini memiiki ciri-ciri gejala yang berulang lebih dari 2 minggu dan disertai perubahan afeksi, kognisi, fungsi neurovegentatif dan pemaafan pada peristiwa di dalam diri individu. 
Pada gangguan depresif mayor, lima atau lebih dari simptom berikut yang mempresentasikan serupa selama periode 2 minggu dan diikuti sebuah perubahan dari fungsi sebelumnya;  salah satu dari gejala berikut (1) suasana hati yang depresi (depressed mood),  (2) kehilangan minat atau kesenangan.  
Kriteria diagnostik:
a.         Perasaan depresi lebih dari sehari, hampir setiap hari, sebagai indikasi salah satu laporan subjektif (contohnya, merasa sedih, hampa, putus asa) atau menggunakan observasi orang lain (contohnya, nampak menangis).
(Catatan: pada anak-anak dan remaja dapat menjadi perasaan mudah marah).
b.        Berkurangnya minat atau kesenangan pada semua atau beberapa aktivitas.
c.         Berat badan secara signifikan berkurang ketika tidak melakukam diet atau penambahan berat serta penambahan dan pengurangan pada nafsu makan. (Catatan: pada anak-anak, kegagalan membuat kenaikan pada berat badan).
d.        Insomnia atau hyperimsomnia hampir setiap hari.
e.         Agitasi atau retardasi psikomotorik (merasa kurang beristirahat).
f.         Kelelahan atau kehilangan tenaga.
g.        Merasa tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan.
h.        Berkurang kemampuan untuk berpikir, konsentrasi, atau ragu-ragu.
i.          Berulang kali memikirkan tentang kematian, merencanakan secara spesifik mengenai ide atau percobaan untuk bunuh diri.  
2. Gangguan kecemasan secara umum
Gangguan kecemasan merupakan gangguan yang terbagi dari berbagai macam ketakutan yang berlebihan serta gangguan perilaku yang terkait. Ketakutan adalah respon emosional terhadap ancaman nyata atau yang dirasakan sedangkan kecemasan antisipasi ancaman masa depan.
Kriteria diagnostik untuk gangguan ini adalah sebagai berikut:
a.         Keresahan.
b.        Mudah lelah.
c.         Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong.
d.        Cepat marah.
e.         Otot menegang.

f.         Gangguan tidur (kesulitan untuk tetap terjaga atau ketidakpuasan tidur). 
Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5. — 5th ed. United States of America.
Chalfant, P. H., Heller, P. L., Roberts, A., Briones, D., Aguirre-Hochbaum, S., & Farr, W. (1990). The clergy as a resource for those encountering psychological distress. Review of Religious Research, 31(3), 305-313.
Karim, J. (2009). Emotional intelligence and psychological distress: Testing the mediatory role of affectivity. Europe’s Journal of Psychology, 4, 20-39.
Kessler, R. C., Andrews, G., Colpe,. J., Hiripi, E., Mroczek, D. K., Normand, S. L. T., Walters. E. E., & Zasavsky, A. M. (2002). Short screening scales to monitor population prevalences and trends in non-specific psychological distress. Psychological Medicine, 32.
Mirowsky, J,. & Ross, C. E. (2003). Social causes of psychological distress (2nd ed). New York: Aldine De Gruyter.
Quick, J. C., Quick, J. D., Nelson, D. L., & Hurrell, J. J. Jr. (1997). Preventive stress management in organizations. Washington: American Psychological Association.
Shaheen, F., & Alam, Md. S. (2010). Psychological Distress and its relation to attributional styles and coping strategies among Adolescents. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 36, 2, 231-238.


Sabtu, 24 Mei 2014

teori atribusi

Teori atribusi

Atribusi internal atau eksternal didasarkan pada:
  1. Asumsi orang tersebut sebagai psikolog naif.
  2.   Kesesuaian  antara perilaku dan sifat kepribadian.
  3.   Pengetahuan tentang perilaku digunakan untuk membuat atribusi berdasarkan konsensus, konsistensi dan kekhasan dari informasi yang tersedia.
  4.      Locus of control, stabilitas dan pengendalian juga berperan.


Expectancy theory Atkinson

Atkinson (1964), expectancy dipengaruhi oleh jumlah individu terhadap siapa yang bersaing, sejarah penguatan (reinforcement) sebelumnya, atau hanya informasi dari orang lain (misalnya, "Anda memiliki kesempatan yang tinggi untuk memecahkan masalah ini"). Menurut Rotter, Chance, dan Phares (1972), harapan ditentukan oleh persentase reinforcement dari respon tertentu dalam situasi tertentu, persentase penguatan respon ini dalam pengaturan yang sama, dan perbedaan individu dalam keyakinan bahwa reinforcement berada di bawah kendali pribadi.Oleh karena itu jelas bahwa konsensus tidak ada, meskipun semua peneliti ini akan setuju bahwa penguatan masa lalu merupakan faktor penentu penting dari tujuan harapan.

Heider (1958), beralasan bahwa tujuan harapan dalam konteks-prestasi ditentukan oleh kemampuan yang dirasakan dan pengeluaran yang direncanakan usaha relatif terhadap kesulitan yang dirasakan dari tugas. Kemampuan tinggi seseorang dirasakan, semakin besar tenaga yang direncanakan dan lebih mudah tugas, semakin besar kepastian kesuksesan masa depan.

Teori locus of control (social learning) Rotter
dominasi perbedaan internal-eksternal tiba dalam psikologi dengan karya Rotter (1966), yang prihatin dengan keyakinan kausal. Rotter (1966) menyatakan:
“Sebuah kejadian dianggap oleh beberapa orang sebagai hadiah (reward) atau penguatan (reinforcement) mungkin berbeda dirasakan dan bereaksi terhadap orang lain. Salah satu faktor penentu reaksi ini adalah sejauh mana individu merasakan bahwa hadiah berikut dari, atau bergantung pada, tingkah lakunya sendiri atau atribut versus sejauh mana ia merasa reward dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan dapat terjadi secara independen dari tindakannya sendiri. Ketika penguatan yang dirasakan oleh subjek sebagai ... tidak sepenuhnya bergantung pada tindakannya, kemudian, dalam budaya kita, itu biasanya dianggap sebagai hasil dari keberuntungan, kebetulan, nasib, seperti di bawah kendali orang lain yang kuat, atau sebagai tak terduga karena kompleksitas besar kekuatan di sekitarnya. Ketika acara ini ditafsirkan dengan cara ini oleh seorang individu, kami telah diberi label ini kepercayaan dalam kontrol eksternal. Jika seseorang merasakan bahwa acara ini bergantung pada perilaku sendiri atau karakteristik yang relatif permanen, kami telah disebut ini keyakinan dalam pengendalian internal.”

Klasifikasi individu ke dalam internal dan eksternal menjadi fokus dominan dalam psikologi. Sejumlah perbedaan selanjutnya dipandu oleh kontras antara persepsi internal versus kontrol eksternal. Paling erat kaitannya dengan kontribusi Rotter adalah tipologi ditawarkan oleh de Charms (1968), yang mengelompokkan individu sebagai asal (diarahkan secara internal) atau mengendalikan (externally driven). Selain klasifikasi ini orang, lingkungan juga telah dikategorikan dengan konsep-konsep yang terkait seperti yang mempromosikan kebebasan terhadap kendala (Brehm, 1966; Steiner, 1970), atau membina intrinsik sebagai lawan motivasi ekstrinsik (Deci, 1975; Lepper, Greene, & Nisbett, 1972).

Pembahasan Rotter (1966) berlabel locus of control diberikan untuk membenarkan pernyataan bahwa analisis logis dari struktur kausalitas dimulai dengan dimensi internal-eksternal. Rotter (1966) telah mendefinisikan pengendalian internal sebagai persepsi bahwa hadiah ditentukan oleh skill (kemampuan), sedangkan orientasi eksternal di bagian menunjukkan bahwa reinforcement  diputuskan oleh keberuntungan atau nasib.
               Internal                                    External
Ability
Task difficulty
Effort
Luck
Stable
Unstable

Locus Of Control adalah sebagai tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang terjadi pada diri mereka, sedangkan eksternal adalah individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan.

Refrensi:
Weiner, B. (1986). An attributional theory of motivation and emotion. New York: Springer. In-depth coverage of this theory.

Weary, G., Stanley, M. A. & Harvey, J. H. (1989). Attribution. New York: Springer-
Verlag.

Brown, C. (2006). Social psychology. (hal, 40). London: SAGE Publications

Social facilitation theory (teori fasilitasi sosial)

Social facilitation theory (fasilitasi sosial)

Kunci pemikiran teori fasilitasi sosial

Ringelmann’s Ringelmann effect (1913)
Melihat bagaimana upaya individu pada tugas berkurang sebagai ukuran kelompok meningkat karena adanya koordinasi dan kehilangan motivasi.

Allport’s social facilitation theory (1920)
Allport menguji apakah kehadiran orang lain (kelompok sosial) dapat memfasilitasi  perilaku tertentu. Ditemukan bahwa kehadiran seseorang akan meningkatkan performa yang telah dipelajari dengan baik / tugas mudah, tapi mengarah pada penurunan performa ketika sesorang baru belajar / tugas sulit karena adanya hambatan sosial.

Zajonc’s drive theory of social facilitation (1968)
Melihat bagaimana arousal "drive" perilaku sosial dan peningkatan arousal terjadi sebagai naluri alami di hadapan orang lain. Seperti peningkatan gairah tersebut karena kehadiran seseorang dapat meningkatkan performa belajar yang baik / tugas yang mudah, tetapi mengganggu performa ketika hal ini tidak terjadi.

Cottrell’s evaluation apprehension theory (1972)
Ditemukan bahwa tidak adanya orang lain yang menyebabkan arousal, tetapi kekhawatiran sedang dievaluasi oleh orang lain. Jika kita yakin dengan kemampuan kita, kemudian diawasi / memiliki penonton akan meningkatkan performa, tetapi jika tidak percaya diri dan khawatir sedang dievaluasi maka meningkat arousal karena adanya ketakutan evaluasi dan sehingga performa menurun.

Baron’s theory of distraction conflict (1986)
Menentukan bahwa kita hanya dapat hadir untuk jumlah informasi yang terbatas dan oleh karena itu jika melakukan tugas sederhana kita juga dapat mengikuti tuntutan kelompok, tetapi jika kita mencoba untuk berfokus pada kedua jenis tuntutan itu arousal meningkat dan penurunan performa.

Steiner’s task taxonomy theory (1972)
Menyimpulkan bahwa dalam memutuskan apakah suatu kelompok melakukan lebih baik dari seorang individu, ada kebutuhan untuk mengklasifikasikan tugas sesuai dengan apakah itu:
  1.  Terbagi atau kesatuan (apakah bisa ada pembagian kerja atau tidak);
  2.   Memaksimalkan (perlu melakukan sebanyak mungkin) atau mengoptimalkan (ditentukan target)
  3. Tugas aditif (output kelompok adalah jumlah input individual), seorang yang memisahkan  tugas (output kelompok adalah hasil dari masukan satu individu) atau penghubung (di mana output ditentukan oleh input / performa yang paling lambat atau paling tidak mampu).


Menurut David G Myer (2010) fasilitasi sosial memiliki dua makna. Pertama, makna asli: kecenderungan orang untuk melakukan  tugas-tugas sederhana atau belajar  lebih baik ketika orang lain hadir. Kedua, makna sekarang: penguatan dominan (lazim, mungkin) tanggapan di hadapan orang lain.





Sumber:
Brown, C. (2006). Social psychology. London. Sage publication.

Myer, D. G (2010).Social psychology, (10th ed). New York. McGraw-Hill.

Rabu, 29 Agustus 2012

Rahasia Pendidikan


                                                 Rahasia Pendidikan




Rahasia utama pendidikan terletak di dalam tiga kata sederhana –“kamu dapat melakukannya” (you can do it!)-. “para orang tua mungkin tidak mengatakan hal ini setiap saat, tetapi ini adalah sebuah sentimen yang mereka percayai dengan kuat dan tak terbatas. Jauh di dalam hati mereka,  kepercayaan mereka yang kuat dan tak terbatas adalah bahwa anak-anak mereka “dapat melakukannya”. Sikap dan mentalitas di dalam mengajari seorang anak untuk berjalan dan berbicara dapat dibangun pada sentimen “ kamu dapat melakukannya”. Dengan tiga kata sederhana ini, orang tua akan memiliki keinginan untuk menerima perbedaan dan dapat mengizinkan kegagalan. Dengan tiga kata “kamu dapat melakukannya”, hampir setiap anak dapat belajar berjalan dan berbicara dengan mudah. Dengan mengacungkan  jempol akan membangkitkan seorang anak lebih baik. Jari telunjuk, disisi lain, hanya akan memaksa anak yang tidak baik untuk keluar. Jari telunjuk telah mendominasi pendidikan keluarga selama ratusan tahun, inilah saatnya bagi sebuah perubahan yang radikal, waktunya revolusi – untuk membuang peraturan  jari telunjuk dan membimbing ke dalam sebuah era jempol! Pertumbuhan tanaman tidak dapat dipercepat. Begitu juga perkembangan seorang anak tidak dapat dipaksakan atau dipercepat!

Daftar pustaka:
Hong Lim, Zhi. 2007. Tauching Point! Panduan orang tua untuk membangkitkan potensi anak yang   memiliki keterbatasan fisik. Prestasi Pustakaraya: Jakarta

Rabu, 11 Januari 2012

istilah psikologi dalam jurnal. Bagian 1


Istilah Psikologi Dalam Jurnal

1.      cerebral palsy = Lumpuh otak adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir.
2.         prosocial behavior = Perilaku prososial, atau "perilaku sukarela dimaksudkan untuk manfaat lain", terdiri dari tindakan-tindakan yang "menguntungkan orang lain atau masyarakat secara keseluruhan, "seperti membantu, berbagi, menyumbangkan, co-operasi, dan relawan.
3.         gene– environment = Interaksi gen lingkungan- adalah fenotipik efek dari interaksi antara gen dan lingkungan.
4.         affection = afeksi, disposisi atau keadaan yang jarang pikiran atau tubuh" yang sering dikaitkan dengan perasaan atau jenis cinta
5.         impatient = Ketidaksabaran, adalah ketidakmampuan untuk menunggu atau bertahan dengan tenang, tanpa amarah, kekesalan atau kalah, atau tindakan irasional
6.         hostile-reactive behavior = perilaku memusuhi-reaktif
7.         self-efficacy = Self-efficacy adalah istilah yang digunakan dalam psikologi , kira-kira sesuai dengan kepercayaan seseorang dalam kompetensi mereka sendiri.
8.         antisocial behavior = Perilaku anti-sosial adalah perilaku yang tidak memiliki pertimbangan untuk orang lain dan yang dapat menyebabkan kerusakan kepada masyarakat, baik sengaja atau melalui kelalaian , sebagai lawan untuk pro-perilaku sosial, perilaku yang membantu atau bermanfaat bagi masyarakat. Pidana dan hukum sipil di berbagai negara menawarkan obat untuk perilaku anti-sosial.
9.         Bullying: bentuk kekerasan verbal maupun non verbal yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau sekelompok orang.
10.     School violence: kekerasan yang terjadi di sekolah.
11.     Bullies: pelaku bullying.
12.     Victims: korban bullying.
13.     Bully-victims: anak yang menjadi korban bullying kemudian menjadi pelaku bullying.
14.     Teacher rating: informasi yang disediakan oleh guru untuk mengidentifikasi anak yang menjadi pelaku dan korban bullying.
15.     Self report: laporan yang dibuat anak yang menggambarkan hal apa saja yang mereka alami dan rasakan.
16.     Terrorist = sekumpulan orang yang melakukan tindakan kejahatan
17.     Jihadi= berjuang di jalan allah
18.     Religious= kepercayaan /kenyakinan seseorang
19.     Sympathies= ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang la
20.     Hypothesis= dugaan semetara dalam penelitian
21.     Cultural stream= aliran
22.     Political islam= politk dalam dunia islam
23.     Motivated= kesimpulan dari suatu usaha
24.     Labeling= pencapan
25.     distress-maintaining          : mempertahankan tekanan seseorang
26.     self-contained                  : kemandirian atas diri sendiri
27.     problem solving               : bagaimana seseorang memecahkan masalahnya
28.     self-defeating                   : mengalahkan diri sendiri
29.     behaviour                         : perilaku atau tingkah laku
30.     perception                        : persepsi seseorang terhadap sesuatu
31.     personality                       : kepribadiaan
32.     self-concept                     : konsep untuk diri sendiri
33.     ego-involved                    : ego yang terlibat
34.     Self-focused attention: perhatian yang terfokus pada diri sendiri
35.     Hypothesis: hipotesis (dugaan hasil awal yang berupa pernyataan peneliti terhadap apa yang ditelitinya)
36.     Self-awareness: kesadaran diri (keadaan seseorang dimana dia sadar terhadap dirinya, baik apa yang dipikirkan dan dilakukan)
37.     Conscious: sadar/pikiran sadar
38.     Unconscious: tidak sadar/bawah sadar/alam bawah sadar
39.     Memory: memori (sesuatu yang diingat dalam pikiran)
40.     Cognitive: kognitif (berhubungan dengan proses sistem kerja pikiran atau otak manusia)
41.     Lexical decision: mengukur seberapa cepat seseorang dalam pengambilan keputusan
42.     Emotion recognition: rekognisi emosi (pengenalan terhadap emosi)
43.     Self-focused attention: perhatian yang terfokus pada diri sendiri
44.     Optimistic: optimis (perasaan yakin terhadap sesuatu yang baik akan terjadi yang memberi harapan positif serta menjadi pendorong untuk berusaha ke arah kemajuan atau kejayaan)
45.     Self-awareness: kesadaran diri (keadaan seseorang dimana dia sadar terhadap dirinya, baik apa yang dipikirkan dan dilakukan)
46.     Self-regulation: regulasi diri (pengaturan dalam diri seseorang berhadapan dengan rangsangan atau rangsangan dari luar)
47.     Motivation: motivasi (proses yang memberikan energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku)
48.     Cognition: kognisi (proses pikiran)
49.     Emotion: emosi (reaksi tubuh menghadapi situasi tertentu)
50.     Active coping: pengambilan langkah-langkah secara aktif dengan mencoba mencari cara untuk mengatasi pengaruh dari sumber tekanan
51.     Self-efficacy: efikasi diri (keyakinan seseorang bahwa dia mampu untuk melakukan sesuatu)
52.     Happiness                                    : kebahagiaan
53.     Mental health                   : kesehatan mental
54.     Religiosity                                    : keberagamaan                       
55.     Negative emotions                        : emosi negatif
56.     Positive emotions             : emosi positif
57.     Depression                                   : depresi
58.     Well-being                                    : kesejahteraan
59.     Satisfaction                      : kepuasan
60.     Physical health                 : kesehatan fisik
61.     Self-esteem                      : kepercayaan diri
62.     Self-control                      : kontrol diri (pengontrolan diri)
63.     Death anxiety                   : kecemasan dalam menghadapi kematian
64.     Anxiety                            : kecemasan    
65.     Self-report scale               : sebuah skala pengukuran dalam bidang psikologi berdasarkan laporan diri seseorang.
66.     Stress        : stress (sebuah keadaan atau kondisi dimana mental merasa tegang)
67.     Worry                   : khawatir
68.     Personality                       : kepribadian
69.     Behavior              : perilaku
70.     Trait                     : sifat
71.     Validity    : kebenaran (alat ukur yang kita gunakan dapat mengukur apa yang inigin kita ukur)
72.     Reliable                            : dapat di percaya (hasil alat ukur selalu konsisten)
73.     Daily living form              : formulir kegiatan sehari-hari (formulir penelitian yang isinya berkaitan dengan kegiatan sehari-hari peserta peneltian)
74.     HIV (Human Imunodeficiency Virus): Virus yang memperlemah kekebalan tubuh manusia.Virus ini dapat menular melalui hubungan seks,transfuse darah,jarum suntik yang terkontaminasi,antara ibu dan bayi selama masa hamil,menyusui,atau persalinan,serta melalui kontak tubuh dengan orang yang terinfeksi HIV melalui lapisan kulit dalam atau cairan tubuh seperti darah,air mani,cairan vagina,dan sebagainya.
75.     AIDS(Acquired Immunodeficiency Syndrome): Gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia oleh  virus yang bernama HIV.Penyakit ini termasuk penyakit mematikan yang sudah merenggut banyak nyawa dan hingga kini belum ditemukan obatnya 
76.     HIV Primary prevention : Pencegahan tahap awal HIV,yaitu mencegah seseorang tertular atau terinveksi HIV
77.     HIV Secondary Prevention : Pencegahan tahap kedua HIV,yaitu mengurangi atau meminimalisir dampak kesehatan merugikan dan konsekuensi psikologis dari seseorang yang sudah terinfeksi HIV
78.     Condom/kondom : Alat kontrasepsi atau alat pencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin yang digunakan pada saat akan bersenggama
79.     STD(Sexually Transmitted Disease) : Penyakit seks menular(PMS) seperti AIDS
80.     MSM(Men Sex Men) : Laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain(gay)
81.     IDUs(Injection Drug Users) : Pengguna obat terlarang (drugs)
82.     Antiretroviral Theraphy : Pengobatan untuk perawatan infeksi retrovirus,terutama HIV
83.     HAART(Highly Active Antiretroviral Theraphies) : terapi antiretroviral yang sangat aktif,merupakan kombinasi dari beberapa obat antiretroviral
84.     HIV Prevention Intervention : Intervensi pencegahan HIV
85.     Gonorrhea : Nama awamnya penyakit kencing nanah,salah satu dari penyakit seks menular.Penyakit ini termasuk yang paling sering dan paling mudah terjadi
86.     Randomized Controlled Trial : Percobaan secara acak yang terkontrol
87.     HIV (Human Imunodeficiency Virus): Virus yang memperlemah kekebalan tubuh manusia.Virus ini dapat menular melalui hubungan seks,transfuse darah,jarum suntik yang terkontaminasi,antara ibu dan bayi selama masa hamil,menyusui,atau persalinan,serta melalui kontak tubuh dengan orang yang terinfeksi HIV melalui lapisan kulit dalam atau cairan tubuh seperti darah,air mani,cairan vagina,dan sebagainya
88.     AIDS(Acquired Immunodeficiency Syndrome): Gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia oleh  virus yang bernama HIV.Penyakit ini termasuk penyakit mematikan yang sudah merenggut banyak nyawa dan hingga kini belum ditemukan obatnya 
89.     Condom/kondom : Alat kontrasepsi atau alat pencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin yang digunakan pada saat akan bersenggama
90.     STD(Sexually Transmitted Disease) : Penyakit seks menular(PMS) seperti AIDS
91.     Academic  dishosnesty     : kecurangan akademis, yaitu perilaku curang atau mencontek pada bidang   akademis sekolah/perkuliahan
92.     Plagiarisme                       : perilaku menjiplak/memplagiat
93.     Gifted                   : Bakat, potensi yang dimiliki individu
94.     Stress        : Stress, gangguan karena ketidak seimbangan antara fisik dan   mental
95.     Motivation            : proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya/ alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu (dorongan/pemicu) dari sebuah perilaku
96.     Intrinsic Motivation                      : Motivasi dari dalam diri individu
97.     Ekstrinsik Motivation       :Motivasi yang bersumber dari luar individu
98.     Attitudes   : Sikap, perilaku secara kompleks atau penilaian terhadap seseorang
99.     Hypothetikal                    : diasumsikan sebagai hypothesis (dugaan sementara)
100. Perception            : Persepsi, sebuah proses saat individu mengatur dan  menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.
101.   Behavior    : Perilaku, wujud dari jiwa atau mengacu pada tindakan dan tingkah laku yang dibuat oleh organisme, sistem, atau entitas buatan dalam hubungannya dengan lingkungannya, yang meliputi sistem lain atau organisme sekitar serta lingkungan fisik. BIsa dikatakan respon dari stimulus.
102.   Technopobic            : Gaptek teknologi, tidak mengerti dengan teknologi khususnya internet (dalam jurnal)
103.   Normal       : Sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat, atau norma yang berlaku
104.   Objective  : Benar-benar sesuai pada objek, nyata tanpa dibuat-buat
105.   Pesimisme                : paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat
106. Prejudice = prasangka, pendapat ( anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri
107. Stereotyping = tanggapan, sambutan terhadap ucapan (kritik, komentar)
108. Attitude = sikap, perbuatan yang terlihat seperti; tegap, tegas, sigap
109. Racism = rasisme / rasialisme; prasangka berdasarkan keturunan bangsa
Compatible blocks = blok kompatibel, mengeblok kemampuan untuk bergerak dan bekerja dengan keserasian
110. Pleasant = menyenangkan, perasaan yang membuat seseorang bahagia; memuaskan; menarik (hati)
Overt behavior = perilaku terang-terangan, perilaku yang terlihat
111. Stimulus = stimulus, perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif
112. Task value                        : nilai tugas
113. Achievement        : prestasi
114. Requirement         : keperluan
115. Treatment             : pengobatan
116. Belief                   : kepercayaan
117. Expectancy          :harapan
118. Role                     : peran
119. Appendix             : lampiran
120. Aptitude               : kecenderungan
121. Stereotype            : prasangka negatif/positif terhadap seseorang atau kelompok masyarakat tertentu
122. Ability                  : kemampuan
123. Social skill: kecakapan social (kemampuan untuk berinteraksi secara positif  baik perilaku verbal maupun nonverbal yang diperlukan untuk komunikasi interpersonal yang efektif)
124. Asperger syndrom: sindrom asperger (kelainan syaraf otak yang diidentifikasi dengan  memliki tingkat intelegensi dan bahasa yang normal namun mengalami kekurangan dalam hubungan social dan kecakapan komunikasi)
125. Autism: gangguan interaksi social dan komunikasi, dan perilaku terbatas dan berulang.
126. Efficacy: efikasi (keyakinan terhadap kemampuan diri)
127. Mental health: kesehatan mental (keadaan dimana mental
128. Ability: kemampuan
129. Disorder: penyakit atau gangguan
130. Acquistion: kemahiran terhadapsesuatu
131. Adolescent: remaja
132. Deficit: kekurangan
133. Social reciprocity: timbal balik sosial
134. Problem Solving =  Pemecahan Masalah
135. Pemecahan Masalah adalah strategi / jalan yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah.
136. Transformation Problem: strategi pemecahan masalah dengan memanipulasi objek atau simbol menurut aturan tertentu.
137. Mental Imagery : Gambaran mental, artinya cara kita untuk menggambarkan suatu hal dalam pikiran kita sendiri.
138. Cognitive strategy : strategi dalam berpikir yang ada pada setiap orang.
139. Trial and error: strategi yang digunakan dalam memecahkan masalah dengan mencoba – coba setiap strategi sehingga dapat menemukan pemecahannya.
140. Episodic Memory: Ingatan Episodik. Artinya, pengalaman atau kejadian yang bersifat personal dalam kehidupan masa lalu.
141. Recognition: Proses pemanggilan memori untuk mengingat sesuatu hal yang telah dilihat sebelumnya.
142. Incremental strategy: strategi tambahan
143. Working memory: sistem kapasitas terbatas untuk menyimpan informasi sementara waktu.
144. Creative thinking; berpikir dengan daya kreatif.
145. Instinctive                        : resulting from instinct
146. Perception                        : is the process of attaining awareness or understanding of the                                       environment by organizing and interpreting sensory information
147. Logic : is the formal systematic study of the principles of valid inference and correct reasoning.
148. Neuroscience       : is the scientific study of the nervous system.
149. Emotion               : is a complex psychophysiological experience of an individual's state of mind as interacting with biochemical (internal) and environmental (external) influences.
150. Consciousness      : is a term that refers to the relationship between the mind and the world with which it interacts.
151. Affect                  : is a key part of the process of an organism's interaction with stimuli.
152.   affect heuristic     : is a heuristic in which current affect influences decisions.
153.   Decision making  : can be regarded as the mental processes (cognitive process)            resulting in the selection of a course of action among several             alternative scenarios.
154. Threat      : is an act of coercion wherein an act is proposed to elicit a negative response
155. Intelligent             : having the faculty of reasoning and understanding
156. Borderline Personality = kepribadian terbatas
157. Neuroticism = keceamasan
158. Extraversion = extravert
159. Agreeableness = sifat yang disetujui
160. Conscientiousness = sifat berhati-hati, sifat mendengarkan kata hati.
161. Schizophrenia = penyakit jiwa
162. Self-damaging = sifat yang merusak misalkan seperti penyalahgunaan zat, penyimpangan seksual, melukai diri sendiri, bunuh diri
163. Betrayal trauma = trauma akibat penghianatan
164. Abuse = meperlakukan dengan kasar/ pelecehan
165. Attachment = kasih sayang
166. Awareness = kesadaran
167. Sexual abuse = pelecehan sexual
168. Physical abuse = kekerasan fisik
169. Traumatic loss: kehilangan traumatik. Kehilangan traumatis pada anak-anak dan remaja memiliki sejumlah gambaran yang khas. Kehilangan traumatik memiliki emosi yang intens dan rasa sakit yang mendalam atas kehilangan orang-ornag yang mereka cintai.
170. Trauma symptoms: gejala trauma. Gejala trauma yang dimaksud antara lain, kesulitan tidur, kehilangan minat belajar, kesulitan bersosialisasi, kesulitan berkonsentrasi.
171. Treatment trauma: penanganan trauma. Ada beberapa treatment yang bisa diberikan untuk anak-anak yang mengalami keadaan trauma. Misalnya:
172. Traumatic grief cognitive behavioral therapy (TG-CBT)
173. UCLA Trauma/ Grief program for adolescents
174. Group and trauma intervention for elementary-Aged children
175. Child-parent psychotherapy (CPP)
176. childhood traumatic grief (CTG): kesedihan trauma anak. Trauma kesedihan pada masa anak-anak yang dimaksud seperti, pelecehan seksual, kekerasan fisik, atau kekerasan domestik yang tidak mengakibatkan kematian, gangguan kesehatan mental, masalah kecemasan lain, depresi, dan gangguan berperilaku.
177. posttraumatic stress disorder (PTSD): pasca trauma stres disorder. Hal ini terjadi setelah anak-anak mengalami keadaan trauma yang menyakitkan.
178. depression: depresi. Depresi terjadi saat kesedihan atas kehilangan orang yang mereka cintai terus mengganggu pikiran, emosi dan ingatan si anak.
179. anxiety     : kecemasan. Rasa cemas yang dialami si anak adalah merupakan komponen lain dari CTG. Mereka menyalahkan diri sendiri atas kematian orang yang dicintai atau merasa bersalah yang intens atas kematian orang yang mereka cintai sedangkan mereka selamat. Mereka mengakui adanya kesamaan atas dirinya dan yang sudah meninggal, sehingga menimbulkan kecemasan pada mereka bahwa mereka juga akan meninggal secara tragis dan mengerikan.
180. behavior problems: perilaku bermasalah. Perilaku bermasalah akibat keadaan trauma yang mereka alami adalah kesulitan dalam berperilaku dan menunjukkan perilaku yang tidak wajar, misalnya murung, sedih atau yang lainnya.
181. emotion: emosi. Mereka cenderung memiliki emosi negatif dari trauma yang mereka alami, misalnya menjadi negatif thinking terhadap hal-hal yang mungkin berhubungan dengan keadaan trauma yang mereka alami sebelumnya.
182. cognitive: kognitif (pikiran). Secara kognitif anak-anak yang mengalami keadaan trauma akan terganggu seperti misalnya kesulitan dalam berkonsentrasi, berkurangnya minat belajar dan lain-lain.
183. psychotherapy: psikoterapi. Psikoterapi adalah salah satu penanganan yang digunakan untuk menangani kasus trauma kehilangan yang di alami anak. Psikoterapi ini melibatkan sesi bersama dengan orang tua dan anak-anak mereka yang berfokus pada menyelesaikan perilaku maladaptive, mendukung interaksi sesuai dengan tahapan perkembangan, dan membimbing keduanya untuk membuat narasi peristiwa traumatik. Belakangan Lieberman, dkk. Mengadaptasi terapi ini untuk menangani anak-anak muda yang kehilangan orang tuanya.
184. Patologi   : ilmu tentang penyakit.
185. Psikiatri    : cabang (spesialisasi) ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penyakit jiwa.
186. Atensi      : perhatian; minat.
187. Perspektif            : sudut pandang; pandangan.
188.   Psikopatologi : bagian dari ilmu psikologi yang menjadikan gejala kejiwaan sebagai objeknya.
189. Delusi       : pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan dikejar-kejar; pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan; khayal.
190. Double personality disorder : gangguang kepribadian ganda.
191. Validitas   : sifat benar menurut bahan bukti yg ada, logika berpikir, atau kekuatan hukum; sifat valid; kesahihan.
192. Motivasi   : dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; usaha yg dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
193. Eskplisit   : gamblang, tegas, terus terang, tidak berbelit-belit; tersurat.
194. Empiris     : berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan).
195. Sistematis : teratur menurut sistem; memakai sistem; dengan cara yang diatur baik-baik.
196. Sampel     : sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar; bagian kecil yang mewakili kelompok atau keseluruhan yang lebih besar.
197. Perception = persepsiàAnggapan seseorang terhadap sesuatu.
198. Psychiatric illness = penyakit kejiwaanàPenyakit yang diderita seseorang karena adanya gangguan pada jiwanya.
199. Concept of sacrifice = konsep pengorbanan diriàKonsep yang biasanya digunakan sebagai alasan atas hal yang seseorang anggap hal itu sebagai perjuangan.
200. Concept of altruistic =  konsep bersifat mementingkan kepentingan orang lain àHal ini membuat kepentingan kelompok sebagai hal yang paling utama di atasa segala-galanya.
201. Sociodemographic characteristic = karakteristik sosiodemografià Sosiodemografi itu seperti jenis kelamin, umur, agama, status ekonomi social, etnis, level pendidikan dan status perkawinan.
202. Martyrdom activity = kegiatan kesyahidan àDalam artikel ini kebanyakan para pembom bunuh diri menganggap hal ini sebagai kegiatan kesyahidan.
203. Poorest classes = kelas termiskin àDalam artikel ini biasanya adalah orang-orang pada kelas bawah lah yang mau menjadi pembiom bunuh diri, namun tidak selalu.
204. Religious fanaticism = fanatic terhadap agama àBiasanya para pembom bunuh diri ini fanatic akan agama namun, tidak menerti arti kesyahidan sesungguhnya.

205. Risky Behaviors   (Perilaku beresiko)
206. Risk-Taking Behaviors (Perilaku pengambilan resiko)
207. Parental Consent (Persetujuan menjadi partisipan penelitian yang dikirimkan ke orangtua subjek)
208. MANOVA (Multivariate Analysis of Variance)
209. Self-Generated Benefits (Keuntungan yang dirasakan atau di buat oleh diri sendiri)
210. Self-Generated Risks (Resiko yang dirasakan atau dibuat oleh diri sendiri)
211. Growth Trajectories (Lintasan pertumbuhan)
212. LGMMing (Latent Growth Mixture Modelling (Model alih lintasan yang tidak bisa diketahui)
213. Person-Centered Strategies (Strategi dengan menjadikan subjek sebagai inti dari strategi tersebut)
214. Cluster-Analytic Approach (Pendekatan peneltian dengan menganalisa kelas-kelas atau lapisan strata dengan sistem horizontal)
215. Emotional Distress (Ketakstabilan emosi)
216. Self-Medication (Pengobatan mandiri)
217. empathy = Empati, kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain
218. Down’s syndrome = keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental